Selamat datang, kawan-kawan Emil!

Ayo kita kuntit Emil liputan, bermalas-malasan, sampai berkecandan bersama Mas Danu, Abi, Nisa, Tante Dini, Om Zul, dan kawan-kawan!

Monday, December 3, 2012

Panik

"APA-APAAN?!” Emil berteriak. Lembaran Word di hadapannya kosong. Dia membabi buta menekan tombol Ctrl dan Z. Tidak terjadi apa-apa.

Seluruh kejadian dari satu jam yang lalu berkelebat di otak Emil.

Satu jam lalu, Mas Firzie mampir ke meja Emil, menagih laporan yang harus dikumpulkan hari ini. Sial, Emil lupa.

Namun, dia menjawab, “Siap, Mas. Bentar ya, saya rapiin dulu.”

Rapiin nenek lu, kata Emil dalam hati. Sekarang sudah pukul 19.00, kapan dia bisa merampungkan laporannya?

Untung semua wawancara yang dibutuhkan untuk laporan itu sudah lengkap. Emil sudah bertemu dengan beberapa narasumber untuk membantu Mas Firzie dan tim liputan khusus menulis mengenai hak atas otonomi tubuh perempuan.

Mas Firzie adalah pentolan Harian Gema untuk liputan humaniora. Dia sudah beberapa kali mendapat penghargaan untuk tulisan-tulisan soal HAM. Sangat keren, begitu impresi Emil terhadap Mas Firzie.

Emil sama sekali tidak mau mengecewakan wartawan yang dia kagumi itu. Pasti Mas Firzie nggak pernah lupa deadline, pikirnya. Oke, ayo kita tulis, kata Emil bersemangat di depan komputernya. Dia cuma punya waktu sebentar.

Tiga puluh menit kemudian, Mas Firzie nongol di meja Emil. “Sudah dikirim, Mil?” Bingkai kacamatanya berkilau dari sudut pandang Emil yang menengadah dari kursinya.

“Sebentar, Mas. Tadi Word saya nge-hang,” Emil berkilah.

Mas Firzie tersenyum. “Sip.”

Emil panik, tulisannya baru tiga per empat jadi. Oke, gue masukin aja semua data wawancaranya, nggak usah disortir. Buru-buru, dia sudah tidak fokus memilih diksi. Ctrl C. Ctrl V. Ctrl C. Ctrl V. Selesai. Tulis tanggal, 1 November...

Kemudian…

“APA-APAAN?!” Emil berteriak. Lembaran Word di hadapannya kosong. Dia membabi buta menekan tombol Ctrl dan Z. Tidak terjadi apa-apa.

Mas Firzie tiba-tiba ada di belakangnya. “Kenapa, Mil?”

Darahnya mengalir keras dari jantung yang berdegup bagai dikejar deadline. Emil pun menjelaskan semuanya ke Mas Firzie. Kata-katanya meluncur: laporannya hilang, dia baru mulai menulis satu jam yang lalu, laporannya asal jadi, dia lupa hari ini deadline, dia panik.

Mas Firzie tersenyum, pandangannya melewati kepala Emil ke arah monitor komputer. Dia lalu memeriksa komputer itu. “Laporan kamu masih ada kok. Tadi kamu kepencet Ctrl N. Tuh. Sekarang tulis lagi yang bener ya.”

Ya, Emil berharap hidup bisa di-Ctrl-Z-kan.