Selamat datang, kawan-kawan Emil!

Ayo kita kuntit Emil liputan, bermalas-malasan, sampai berkecandan bersama Mas Danu, Abi, Nisa, Tante Dini, Om Zul, dan kawan-kawan!

Wednesday, June 13, 2012

Lapar

Sekarang pukul 14.30, Emil dan Mas Andhi sudah terlambat satu jam dari jadwal bertemu narasumber mereka. Walaupun belum makan siang, kedua wartawan itu tergesa-gesa menyambangi sebuah hotel bintang lima.

“Maaf, kami terlambat, Pak Dir.” Mas Andhi menyapa seorang laki-laki tua berkemeja batik yang duduk sendiri di restoran hotel tempat mereka janjian. Orang yang disapa dengan Pak Dir oleh redaktur Emil itu tersenyum melihat mereka.

“Halo, Mas Andhi, Mas Emil. Silakan, silakan,” katanya dengan tangan yang terarah sopan ke kursi di depannya. Pak Dir, kependekan dari Pak Direktur, adalah pemilik restoran dan hotel yang didatangi Emil dan Mas Andhi.

Perut Emil keroncongan melihat hidangan berbungkus daun pisang di hadapannya. Bentuknya kecil, bertumpuk rapi di atas keranjang bambu. Dari bagian luar daun pisang yang terbakar, Emil bisa mencium harumnya ikan tenggiri.

Hmm. Otak-otak. Ingin rasanya dia mencomot salah satu bungkusan kecil itu.

Melihat mata Emil yang terkunci pada keranjang otak-otak, Pak Dir mengangkat tangannya, memanggil pelayan. Seorang pelayan dengan seragam jas hitam menyapa dan menaruh menu di hadapan mereka.

“Boleh saya memberikan rekomendasi,” ujar si pelayan, “nasi goreng kepiting kami adalah yang terbaik di Jakarta.”

“Ah, ya. Saya mau itu,” kata Pak Dir. Dia tersenyum ke arah kedua tamunya. “Mas Andhi dan Mas Emil juga pesan yang sama?”

Perut Emil berbunyi. “Kami sudah makan, Pak Dir,” kata Mas Andhi, berbohong. Dia tersenyum seramah mungkin, “Bapak saja yang makan.”

Muka Pak Dir berubah kecewa. “Wah, saya nggak enak kalau makan sendiri. Ya sudah. Camilan? Atau es campur? Es campur di sini juga enak lho.” Si pelayan mengangguk, membenarkan.

“Nggak usah, Pak Dir. Betul. Kami masih kenyang.” Mas Andhi kembali berbohong dengan senyum sopan yang terus tersungging di wajahnya.

Bersamaan dengan penolakan Mas Andhi, seorang pelayan lewat di samping Emil, membawa nampan berisi mangkok-mangkok besar dan piring-piring nasi untuk meja di sebelahnya.

Wangi sup ikan. Lagi-lagi, perut Emil keroncongan.

Emil benar-benar lapar. Tapi dia tidak mau makan sesuap pun dari restoran itu.

Pak Dir adalah Wardi Mulya, salah satu pengusaha terkaya di Indonesia. Dia dekat dengan semua orang. Pemerintah, pengusaha, militer, polisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, media, dari berbagai era, tua, muda, pejabat, cecunguk, korup, bersih. Semua.

Kekayaan Wardi ditumpuknya dari hasil berdagang tanpa mengindahkan aturan bisnis, bahkan melanggar hukum agar usahanya berjalan lancar. Dia kotor tapi hanya segelintir orang yang berani mengusiknya.

Harian Gema sedang mengusut bisnis senjata ilegal yang dijalankan Wardi. Investigasi selama sebulan menunjukkan bahwa keuntungan bisnis ini dipakai untuk membiayai kampanye seorang calon presiden.

Itulah sebabnya Emil dan Mas Andhi datang untuk mewawancarai Wardi. Meminta konfirmasi, bukan untuk makan.

Emil lebih memilih lapar.