Selamat datang, kawan-kawan Emil!

Ayo kita kuntit Emil liputan, bermalas-malasan, sampai berkecandan bersama Mas Danu, Abi, Nisa, Tante Dini, Om Zul, dan kawan-kawan!

Friday, May 11, 2012

Masih Punya Penggemar

"Jangan lupa direkam.” Mas Pras berpesan sebelum Emil meninggalkan kantor Harian Gema, malam ini.

Besok pagi Emil bertugas mewawancarai Jaksa Agung. Sesuai standar kantornya, dan tentu saja sesuai pesan redakturnya barusan, wawancara sepenting itu harus direkam.

Senior-seniornya bilang, wartawan yang tidak punya alat perekam bisa meminjamnya ke Sekretariat Redaksi. Gue juga pinjem deh, pikir Emil.

Astaga! Emil rasanya ingin tertawa keras-keras waktu Mbak Sinta dari Sekred memberikannya alat perekam kaset. Jadul!

Kaset ditemukan oleh Philips, perusahaan elektronik dari Belanda, pada tahun 1962. Setelah lahir adik-adik kaset, mulai dari laser disc hingga DVD, Emil pikir kaset secara otomatis musnah dari muka bumi ini.

“Masih jaman, Mbak,” kata Emil, akhirnya tidak tahan tertawa heboh dan disambut tatapan galak Mbak Sinta.

Emil takjub. Tenyata, seperti surat kabar yang belum mati meski telah muncul media elektronik dan online, kaset pun masih bertahan. 

Jangan mati, kaset, pinta Emil. Kamu masih punya penggemar.

Tuesday, May 8, 2012

Selalu Ada Pertama Kali

Emil ada di dalam angkutan umum jurusan Bogor-Sukabumi. Emil tadinya belum pernah naik angkutan umum jurusan Bogor-Sukabumi. Dia waswas.

10:27:11            Emil berteriak dari bangku belakang Mitsubishi Colt L300 itu ke Dek Supir yang dia duga baru saja mendapatkan SIM saking muda tampangnya bahwa dia akan turun di Ratna, tolong diberi tahu jika sudah di Ratna karena dia belum pernah ke sana.

10:27:25            Dek Supir mengiyakan dengan logat Sunda kental.

10:35:54            Ibu di sebelah Emil mengajaknya mengobrol soal udara Bogor yang makin panas, jalanan Tajur yang makin macet, dan tahu Yun Yi.

10:42:08            Mobil L300 berhenti setelah melewati Tajur. Dek Supir turun dan digantikan oleh Pak Supir. Emil panik. Ibu di sebelah Emil dengan heboh menganjurkannya untuk memberi tahu tempat tujuannya ke Pak Supir.

10:43:09            Emil berteriak dari bangku belakang mobil L300 ke Pak Supir bahwa dia akan turun di Ratna, tolong diberi tahu jika sudah di Ratna karena dia belum pernah ke sana.

10:43:19            Pak Supir mengiyakan dengan logat Sunda kental.

10:43:20            Ibu di sebelah Emil memuji kesigapannya dengan berlebihan, lalu mengajaknya mengobrol soal Ahmad Heryawan.

10:50:44            Emil melihat ponselnya. Sudah pukul 10.50, pikir Emil. Mobil L300 masih ngetem di ujung jalan tol entah di mana. Ibu di sebelah Emil mengajaknya mengobrol soal kepopuleran BlackBerry.

10:51:21            Mobil L300 mulai jalan.

10:58:55            Ibu di sebelah Emil membuka tasnya, mengeluarkan bungkusan besar permen, dan menawarkannya ke Emil.

10:58:56            Emil menolaknya. Tidak, terima kasih, katanya, sambil menjulurkan tangannya ke dalam bungkusan besar permen, spontan.

10:58:57            Emil merasa bodoh. Ibu di sebelah Emil tertawa.

11:02:01            Pak Supir berteriak bahwa mereka sudah tiba di Ratna. Mobil L300 berhenti. Emil bergegas turun. Ibu yang tadinya di sebelah Emil masih tertawa.

Emil baru saja turun dari angkutan umum jurusan Bogor-Sukabumi. Emil sudah pernah naik angkutan umum jurusan Bogor-Sukabumi. Dia bangga.