Selamat datang, kawan-kawan Emil!

Ayo kita kuntit Emil liputan, bermalas-malasan, sampai berkecandan bersama Mas Danu, Abi, Nisa, Tante Dini, Om Zul, dan kawan-kawan!

Friday, April 13, 2012

Kuntit

Sudah hampir satu tahun sejak hubungan Emil dikandaskan Cindy. Mantan pacarnya itu dulu tidak tahan pacaran jarak jauh dengan Emil yang lulus kuliah duluan lalu merantau ke Jakarta.

Dan sudah hampir tiga bulan Emil puasa Cindy. Maksudnya, selama tiga bulan belakangan ini, Emil tidak berusaha mencari tahu soal Cindy. Karena mereka tinggal di dua kota berbeda dan Emil sudah punya kehidupan baru, Emil benar-benar tidak pernah menerima kabar tentang mantannya itu.

Selama sembilan bulan sebelumnya? Setiap dua kali sehari, sesaat setelah bangun tidur dan sehabis Maghrib, Emil tak pernah absen mengecek akun Twitter dan Facebook Cindy.

Pacar pertama Emil itu sih jarang meng-update akun jejaring sosialnya. Kamu kok gaptek banget, teriak Emil ke layar komputernya, dulu. Untungnya, teman-teman Cindy sering me-mention mojang Priangan ini di Twitter atau menulis wall di Facebook-nya, Emil jadi tetap bisa mendapat bocoran kehidupan Cindy.

Waktu lambat laun menggerus keingintahuan Emil terhadap Cindy. Kehidupan barunya itu sibuk dan lagaknya mirip pacar, minta banyak perhatian. Walhasil pikiran Emil sedikit-sedikit lepas dari sang mantan.

Sampai pada suatu hari. Teman Emil yang juga teman Cindy menulis sesuatu di Twitter.

Ciee… @Cindy_Ramaniya makan-makan dong baru jadian!

Rasanya seperti ditonjok, otak Emil berasa kebas. Dimulailah lagi masa menguntit Cindy.

Jari-jari Emil belingsatan di atas tombol komputer. Wah, belum ada yang mention lagi nih soal ini, pikir Emil. Dia pun sigap berpindah ke Facebook. Ternyata, ada beberapa foto Cindy sedang nongkrong dengan grup yang tidak dikenalinya. Siapa mereka, teriak Emil ke layar komputernya, kini.

Di semua foto itu, Cindy selalu duduk di sebelah laki-laki yang sama. Cih, lumayan ganteng, maki Emil.

Sudah tiga hari Emil hanya tidur dua jam tiap malam. Kerjaannya hanya memandangi layar komputer dengan gobar hati. Kemudian mention-mention yang dia tunggu itu pun berdatangan.

Emil langsung kerja rodi. Search sana, search sini. Google sana, google sini.

Tapi ternyata susah sekali mencari data soal si cowok itu. Hasil google namanya banyak, nyaris sejuta. Pakai tanda kutip pun masih 900 ribuan. Dari sekian banyak, Emil bingung mana yang relevan.

Halaman demi halaman hasil pencarian Google dipelototi Emil yang kurang tidur. Emil tidak tahan, otaknya sudah berasap tapi hatinya penasaran.

Beberapa penelitian ilmiah menyimpulkan bahwa efek kurang tidur mirip dengan mabuk. Makanya kita tidak boleh menyetir saat mengantuk karena badan letih dan otak tidak bisa fokus. Berasap, kata Emil.

Frustrasi bercampur dengan efek mabuk, Emil meraih ponselnya. Dia berjuang melawan kantuk bagai beralkohol itu untuk mencari nomor di ponsel. Cindy.

Tombol OK ditekan.

Nada sambung.

“Mil?”

Bagus, itu suara Cindy, pikir Emil, melayang. Efek mirip alkohol sudah menyerbu pikirannya. Setengah sadar, dia berteriak, “CARI PACAR JANGAN YANG NAMANYA IVAN GUNAWAN!”

Tuesday, April 3, 2012

Gelasnya...

"Gelasnya… setengah penuh!”

Emil memperhatikan dari jauh, dua kakak-beradik yang juga sepupunya itu sedang seru sendiri memperhatikan sebuah majalah remaja perempuan. Dari teriakan Abi, Emil bisa menduga mereka sedang membahas semacam tes psikologi untuk melihat kecenderungan seseorang berpikir optimistis atau pesimistis.

Penasaran, Emil. Biasanya Abi paling malas jika diajak berbicara hal-hal yang menurutnya tidak penting oleh Nisa. Emil mengira, tes psikologi di majalah remaja perempuan pasti berada di daftar teratas hal-hal yang menurut Abi tidak penting.

“Mas Emil, ayo liat ini. Menurut Mas Emil, ini gambar apa,” kata Nisa bersemangat saat Emil menghampiri mereka.

Seperti dugaan, itu adalah gambar gelas yang bisa diartikan setengah berisi air atau setengah kosong. Gambarnya sih artistik, gelas belimbing dengan latar belakang batik cerah Peranakan.

Tapi… Ya ampun, Bi, ini kan nggak penting, pikir Emil. Dia mendelik ke arah Abi yang sudah pasang tampang malas sekaligus lega. Dengan adanya Emil, dia tidak perlu lagi meladeni rengekan Nisa.

Kejebak gue. Emil putar otak supaya waktu yang terpaksa dia habiskan untuk membahas tes psikologi dari majalah remaja perempuan itu bisa dia nikmati.

Aha!

“Gelasnya berisi 125 mililiter air.”

Emil tersenyum sombong kepada Nisa. Menurutnya, dia berhasil memberikan jawaban cerdas yang pasti tidak dikira si sepupu. Jawaban gue nggak klise, intelek abis gitu gue, pikir Emil. Masalah optimistis atau pesimistis runtuh, gue kasih fakta.

“Coba liat.” Mas Danu yang dari tadi diam di ruang sebelah tiba-tiba nimbrung. Nisa pun memutar majalah hingga bisa terlihat oleh kakak Emil itu dari seberang ruangan.

Tetap di kursinya, tetap pada posisi badan yang sama, cuma matanya yang melirik ke arah majalah remaja perempuan Nisa, Mas Danu dengan tak acuh berkata lirih, “Gelasnya kurang 125 mili.”