Selamat datang, kawan-kawan Emil!

Ayo kita kuntit Emil liputan, bermalas-malasan, sampai berkecandan bersama Mas Danu, Abi, Nisa, Tante Dini, Om Zul, dan kawan-kawan!

Sunday, February 12, 2012

Untung Ada di Dalam Helm

Emil bersyukur atas tanggal 1 April 2010. Tanggal April Mop ini bersamaan dengan hari pertama diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Dengan aturan itu, pengendara sepeda motor wajib menggunakan helm Standar Nasional Indonesia.

Sesuai ketentuan Badan Standardisasi Nasional, yang termasuk helm SNI adalah helm standar terbuka (open face) dan helm standar tertutup (full face). Syarat mutunya meliputi persyaratan umum, material dan konstruksi, serta syarat unjuk kerja.

Bahan helm harus memenuhi beberapa ketentuan, seperti dibuat dari bahan yang kuat dan bukan logam. Bahan pelengkap helm pun harus tahan lapuk, tahan air, dan tidak dapat terpengaruh oleh perubahan suhu.

Konstruksi helm juga harus memenuhi berbagai persyaratan, mulai dari tinggi helm yang sekurang-kurangnya 114 milimeter, hingga keliling lingkaran bagian dalam helm yang harus berkisar antara 500x620 milimeter.

Logikanya, helm sebagai pelindung kepala harus bisa melindungi seluruh kepala, termasuk wajah. Lain dari ketentuan itu berarti di bawah standar.

Awalnya banyak yang mengeluhkan pemberlakuan aturan keselamatan berkendara ini. “Ih, nanti rambut Tante berantakan,” kata Tante Dini. Daripada helm yang menutup seluruh kepalanya, adik ibu Emil itu lebih memilih mengenakan helm batok yang hanya sedikit merusak tatanan rambutnya saat dibonceng tukang ojek.

Tapi sekarang, sedikit sekali pengendara dan penumpang motor yang tidak taat aturan helm SNI. Bahkan tukang ojek juga sudah siap sedia helm SNI, asli ataupun palsu. Kalau tidak nurut, sanksinya adalah pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu. Tante Dini pun harus ikut taat.

Sejak pindah ke Jakarta dan mulai bekerja sebagai wartawan, Emil merasa hidupnya akan lebih mudah jika dia punya motor. Geser-geser lokasi liputan pasti enggak akan bikin malas lagi, pikir Emil.

Betul sih, Emil jadi sangat terbantu dengan adanya Yamaha Jupiter yang cicilan pertamanya dibayar oleh Tante Dini itu. Tapi kadang-kadang Emil masih tidak bisa mengendalikannya.

Emil memang tidak akrab dengan mesin. Dia merasa semua mesin membencinya. Tidak satu pun barang elektronik yang bisa dia perbaiki, tidak peduli betapa minornya kerusakan itu. Tidak remote control, tidak ponsel, tidak komputer. Apalagi mobil atau motor. Hih, Emil bergidik.

Lagi-lagi motor baru itu berulah. Emil merasa oleng waktu menunggangi si motor di depan teman-teman barunya di lapangan.

Gila, gila, gila, jangan jatuh sekarang dong, pikiran Emil berkecamuk. Harus jaim, masa baru kenal sudah kelihatan konyol? Ada yang cantik pula nih, malu aje, kata Emil dalam hati.

Tapi si motor masih berjalan seperti orang mabuk. Kanan, kiri, kanan, kiri. NAJIS! JANGAN JATOH SEKARANG! AAAAAAA!

Emil panik. Dia berteriak sekencang-kencangnya, kali ini tidak di dalam hati. Untung bibirnya ada di dalam helm SNI.

2 comments: